Sunday, June 17, 2012

Muhammadiyah dan (NU) Nahdatul Ulama

Telah dipresentasikan dalam mata kuliah telaah materi SKI dan direfisi oleh: 
Muhammad Ridho
Nuur Salim
Mahasiswa STAIN Palangkaraya angkatan 2009
untuk mengunduh file dalam bentuk power point dapat klik disini
diedit oleh Arief Rahman

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Perkembangan organisasi gerakan Islam di Indonesia tumbuh dan berkembang sejak dari negeri ini belum mencapai kemerdekaan secara fisik sampai pada masa reformasi sekarang ini. Perkembangannya, bahkan, kian pesat dengan dilakukannya tajdid (pembaharuan) di masing-masing gerakan Islam tersebut. Diantaranya yang berkembang yakni muhammadiyah dan NU.

NU dan Muhammadiyah adalah dua organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan mengantongi jumlah massa masing-masing puluhan juta. Keduanya mempunyai pengalaman kesejarahan amat kaya. Dan proses kristalisasi sejarah semakin mengutungkan NU dan Muhammadiyah sebagai dua sosok organisasi sosial keagamaan yang disegani. Yang pertama sering disebut oleh para pengamat sejarah sebagi sebuah organisasi yang mewakili golongan Muslim tradisional, sedang yang kedua sering dikatakan sebagai sebuah perkumpulan yang mewakili kelompok Muslim modernis.
Tatkala Muhammadiyah sedang menyelenggarakan Sidang Tanwir (mulai tanggal 24 Januari dan berakhir pada tanggal 27 Januari 2002 yang bertempat di Denpasar Bali), maka tepat pada tanggal 31 Januari 2002 Nahdhatul Ulama (NU) merayakan ulang tahunnya yang ke-76. Inilah sebuah koinsidensi historis menarik yang terjadi awal tahun 2002 ini. Pertanyaannya kemudian, apakah sesuatu yang menarik itu juga merupakan hal penting dan signifikan. Jawabannya bisa dua, “ya” dan “tidak”.
Kalau dipandang dari dimensi “teks”nya semata, maka jelas koinsidensi historis itu merupakan peristiwa biasa yang normal terjadi, karena ia berlangsung secara kebetulan dan natural, tanpa ada disain dan rekayasa. Dengan demikian, tidak ada yang bisa diharapkan darinya. Namun, jika ditelaah dari sudut konteksnya, maka koinsidensi historis itu bisa diberi makna yang lebih strategis dan penting. Dan agaknya cukup tepat memaknai koinsidensi historis itu Kalau dilihat dari sudut pandang dimensi “teks”nya semata, maka jelas koinsidensi historis itu merupakan peristiwa biasa yang normal terjadi, karena ia berlangsung secara kebetulan dan natural, tanpa ada disain dan rekayasa. Dengan demikian, tidak ada yang bisa diharapkan darinya. Namun, jika ditelaah dari sudut konteksnya, maka koinsidensi historis itu bisa diberi makna yang lebih strategis dan penting. Dan agaknya cukup tepat memaknai koinsidensi historis itu dari sudut pandang kontekstual ini.
Melihat kematangan usianya yang telah melebihi usia kemerdekaan Republik Indonesia, keduanya jelas memiliki pengalaman interaksi dengan langkap sejarah keindonesiaan yang lengkap dan utuh. maka, penulis akan memaparkan sedikit tentang kedua organisasi ini pada makalah.
BAB II
PEMBAHASAN
A.  MUHAMMADIYAH
a.        Sejarah berdirinya Muhammadiyah
Organisasi Islam Muhammadiyah yang kini lebih dikenal dengan sebutan Persyarikatan Muhammadiyah, didirikan oleh Muhammad Darwis—yang kemudian dikenal dengan nama K.H. Ahmad Dahlan—di Kauman Yogyakarta, pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H / 18 Nopember 1912. Ahmad Dahlan lahir di Kauman (Yogyakarta) pada tahun 1968 dan meninggal pada tanggal 25 Februari 1921. Ia berasal dari keluarga yang didaktis dan terkenal alim dalam ilmu agama. Ayahnya bernama K.H. Abu Bakar, seorang imam dan khatib masjid besar KratonYogyakarta. Sementara ibunya bernama Siti Aminah, putri K.H. Ibrahim yang pernah menjabat sebagai penghulu di Kraton Yogyakarta.
Ia adalah putra keempat dari tujuh bersaudara, yaitu Katib Harum, Mukhsin atau Nur, Haji Shaleh, Ahmad Dahlan, ’Abd Al-Rahim, Muhammad Pakin dan Basir.
Semenjak kecil, Dahlan diasuh dan dididik sebagai putera kiyai. Pendidikan dasarnya dimulai dengan belajar membaca, menulis, mengaji Al-Qur’an, dan kitab-kitab agama. Pendidikan ini diperoleh langsung dari ayahnya. Menjelang dewasa, ia mempelajari dan mendalami ilmu-ilmu agama kepada beberapa ulama besar waktu itu. Diantaranya ia K.H. Muhammad Saleh (ilmu fiqh), K.H. Muhsin (ilmu nahwu), K.H. R. Dahlan (ilmu falak), K.H. Mahfudz dan Syekh Khayyat Sattokh (ilmu hadis), Syekh Amin dan Sayyid Bakri (qira’at Al-Qur’an), serta beberapa guru lainya. Dengan data ini, tak heran jika dalam usia relatif muda, ia telah mampu menguasai berbagai disiplin ilmu keislaman. Ketajaman intelektualitasnya yang tinggi membuat Dahlan selalui merasa tidak puas dengan ilmu yang telah dipelajarinya dan terus berupaya untuk lebih mendalaminya.Beliau adalah pegawai kesultanan Kraton Yogyakarta sebagai seorang Khatib dan sebagai pedagang. Melihat keadaan ummat Islam pada waktu itu dalam keadaan jumud, beku dan penuh dengan amalan-amalan yang bersifat mistik, beliau tergerak hatinya untuk mengajak mereka kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya berdasarkan Qur`an dan Hadist. [1]
Pada masa kepemimpinan KH. Ahmad Dahlan (1912-1922), daerah pengaruh Muhammadiyah masih terbatas di karesidenan Yogyakarta, Surakarta, Pekalongan, dan Pekajangan. Selain Yogya, cabang-cabang Muhammadiyah berdiri di kota-kota tersebut pada tahun 1922. Pada tahun 1925, Abdul Karim Amrullah membawa Muhammadiyah ke Sumatera Barat dengan membuka cabang di Sungai Batang, Agam. Dalam tempo yang relatif singkat, arus gelombang Muhammadiyah telah menyebar ke seluruh Sumatera Barat, dan dari daerah inilah kemudian Muhammadiyah bergerak ke seluruh Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Pada tahun 1938, Muhammadiyah telah tersebar keseluruh Indonesia.
KH A Dahlan memimpin Muhammadiyah dari tahun 1912 hingga tahun 1922 dimana saat itu masih menggunakan sistem permusyawaratan rapat tahunan. Pada rapat tahun ke 11, Pemimpin Muhammadiyah dipegang oleh KH Ibrahim yang kemudian memegang Muhammadiyah hingga tahun 1934. Rapat Tahunan itu sendiri kemudian berubah menjadi Konggres Tahunan pada tahun 1926 yang di kemudian hari berubah menjadi Muktamar tiga tahunan dan seperti saat ini Menjadi Muktamar 5 tahunan.
Di samping itu, Muhammadiyah juga mendirikan organisasi untuk kaum perempuan dengan Nama 'Aisyiyah yang disitulah Istri KH. A. Dahlan, yakani Nyi Walidah Ahmad Dahlan berperan serta aktif dan sempat juga menjadi pemimpinnya.
Daftar Pimpinan Muhammadiyah Indonesia sejak berdirinya sampai sekarang, yang dapat penulis susun adalah:[2]
• KH Ahmad Dahlan 1912-1922
• KH Ibrahim 1923-1934
• KH Hisyam 1935 – 1936
• KH Mas Mansur 1937 – 1941
• Ki Bagus Hadikusuma 1942 – 1953
• Buya AR Sutan Mansur 1956
• H.M. Yunus Anis 1959
• KH. Ahmad Badawi 1962 – 1965
• KH. Faqih Usman 1968
• KH. AR Fachruddin 1971 – 1985
• KHA. Azhar Basyir, M.A. 1990
• Prof. Dr. H. M. Amien Rais 1995
• Prof. Dr. H.A. Syafii Ma'arif 1998 – 2005
• Prof. Dr. HM Din Syamsuddin 2005 - 2010
b.   Ide Dasar Pemikiran K.H.Ahmad Dahlan
Setelah beberapa waktu belajar dengan sejumlah guru, pada tahun 1890 Dahlan berangkat ke Mekkah untuk melanjutkan studinya dan bermukim di sana selama setahun. Merasa tidak puas dengan hasil kunjungannya yang pertama, maka pada tahun 1903, ia. berangkat lagi ke Mekkah dan menetap selama dua tahun. Ketika mukim yang kedua kali ini, ia banyak bertemu dan melakukan muzakkarah dengan sejumlah ulama Indonesia yang bermukim di Mekkah. Di antara ulama tersebut adalah; Syekh Muhammad Khatib al-Minangkabawi, Kiyai Nawawi al-Banteni, Kiyai Mas Abdullah, dan Kiyai Faqih Kembang. Pada saat itu pula, Dahlan mulai berkenalan dengan ide-ide pembaharuan yang dilakukan melalui penganalisaan kitab-kitab yang dikarang oleh reformer Islam, seperti Ibn Taimiyah, Ibn Qoyyim al-Jauziyah, Muhammad bin Abd al-Wahab, Jamal-al-Din al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan lain sebagainya.[3]
Ide dasar Ahmad Dahlan mendirikan organisasi muhammadiyah antara lain:
1.      perlunya pembaharuan dalam berbagai bidang kehidupan umat islam karena peranan umat Islam telah rusak dan hilang di berbagai bidang. Misalnya; bidang politik, ekonomi, perdagangan, pendidikan, kebudayaan, dan bidang keagamaan.
2.      memurnikan kembali ajaran Islam yang telah tercampur dengan berbagai paham sehinga muncullah tahayul, khurafat, bid’ah, dan syirik dikalangan masyarakat muslim.
3.      mempertahankan regenerasi Islam di masa kini dan mendatang, karena derasnya arus kristenisasi di Indonesia
4.      mengembalikan citra Islam dikalangan pemuda dan remaja serta pelajar karena derasnya informasi dan kebudayaan barat yang masuk keindonesia telah mempengaruhi kepribadian umat Islam.[4]
c.    Meneladani  Sikap Intelektual Dan Semangat Keislaman Serta Kepedulian Sosial K.H.Ahmad Dahlan
Usaha-usaha Muhammadiyah bukan hanya bergerak pada bidang pengajaran, tapi juga bidang-bidang lain, terutama sosial umat Islam. Sehubungan dengan itu, Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan mempunyai ciri-ciri khas sebagai berikut:
Muhammadiyah sebagai gerakan Islam artinya muhammadiyah dalam melaksanakan dan memperjuangkan keyakinan dan cita-cita organisasinya berasaskan Islam. Menurut Muhammadiyah, bahwa dengan Islam bisa dijamin kebahagiaan yang hakiki hidup di dunia dan akhirat, material dan spiritual.
Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah artinya Untuk mewujudkan keyakinan dan cita-cita Muhammadiyah yang berdasarkan Islam, yaitu amar ma’ruf dan nahi munkar. Dakwah dilakukan menurut cara yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Dakwah Islam dilakukan dengan hikmah, kebijaksanaan, nasehat, ajakan, dan jika perlu dilakukan dengan berdialog.
Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid artinya Usaha-usaha yang dirintis dan dilaksanakan menunjukkan bahwa Muhammadiyah selalu berusaha memperbarui dan meningkatkan pemahaman Islam secara rasional sehingga Islam lebih mudah diterima dan dihayati oleh segenap lapisan masyarakat.
Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan, lengkaplah ketika pada tahun 1917 M. membentuk bagian khusus wanita yaitu ‘Aisyah. Bagian ini menyelenggarakan tabligh khusus wanita, memberika kursus kewanitaan. Pemeliharaan fakir miskin, serta memberi bantuan kepada orang sakit. Kegiatan Muhammadiyah dengan ‘Aisyah ini berjalan baik, terutama karena banyak orang Islam baik menjadi anggota maupun simpatisan memberikan zakatnya kepada organisasi ini.
Di samping ‘Aisyiah, kegiatan lain dalam bentuk kelembagaan yang berada di bawah organisasi Muhammadiyah ialah (1) PKU (Penolong Kesengsaraan Umum) yang bergerak dalam usaha membantu orang-orang miskin, yatim piatu, korban bencana alam dan mendirikan klinik-klinik kesehatan; (2) Hizb AI-Wathan, gerakan kepanduan Muhammadiyah yang dibentuk pada tahun 1917 M. oleh K.H. Ahmad Dahlan; (3) Majlis Tarjih, yang bertugas mengeluarkan fatwa terhadap masalah-masalah yang terjadi di masyarakat.[5]
Dengan mengamati kecerdasan intelektual dan kepedulian K.H. Ahmad Dahlan, sebagai muslim tentu kita dapat meneladaninya dalam beberapa aspek kehidupan sosial ini, diantaranya:
1.      terus menerus belajar, walaupun sampai kenegri orang dan mengambil ilmu-ilmmu orang yang saleh
2.      mengamalkan segala pengetahuan yang didapat demi kemakmuran, kemajuan, dan kebahagiaan masyarakat
3.      terus menggagas ide-ide yang bermutu demi meningkatkan kualitas agama dan pendidikan umat Islam dimasa mendatang
4.      berpikir dan bekerja keras tanpa mengenal usia untuk mengembangkan dakwah ke berbagai pelosok negeri dengan berbagai berbagai pendekatan yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadist.
5.      mempelajari berbagai ilmu pengetahuan dan umum
6.      peduli terhadap kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat yang kurang mampu dengan menciptakan sarana pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan panti-panti sosial.[6]
B.     NAHDATUL ULAMA (NU)
  1. Materi
Nahdatul Ulama artinya kebangkitan para Ulama. NU adalah sebuah organisasai sosial keagamaan yang dipelopori oleh para ulama atau Kiyai mereka itu ialah K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Wahab Hasbullah, K.H. Bisri Syamsuri, K.H. Mas Alwi, dan K.H. Ridwan. Lahir disurabaya pada tanggal 31 Januari 1926 dan kini salah satu Organisasi dan gerakan Islam terbesar di tanah Air. Bertujuan mengupayakan berlakunya ajaran Islam yang berhaluan Ahlusunnah waljama’ah dan menganut salah satu dari Empat Mazhab fikih (Imam Hanafi, Imam Syafi’i, Imam Hambali dan Imam Maliki).
Pada mulanya NU tidak mencampuri urusan politik, ia lebih menfokuskan diri pada pengembangan dan pemantapan paham keagamaanya dalam masyarakat yang saat itu sedang gencar-gencarnya penyebaran paham Wahabiyah yang dianggap membahayakan paham Ahlussunnah Waljamaah. Hal ini tersirat dalam salah satu hasil keputusan Kongresnya di Surabaya pada bulan Oktober 1928.
NU semakin berkembang dengan cepat, pada tahun 1935 telah memiliki 68 cabang dengan anggota 6700 orang. Padakongres tahun 1940 di Surabaya dinyatakan berdirinya organisasi wanita NU atau Muslimat dan pemuda ansar. Pada perkembangan selanjutnya, NU mengubah haluanya, selain sebagai organisasi yang bergerak dalam bidang sosial keagamaan, juga mulai ikut dalam kehidupan politik. Tahun 1937 bergabung dengan Majilis Islam A’la Indonesia  (MIAI). Hal ini terus berlangsung sampai dibubarkanya pada masa penjajahan Jepang tahun 1943, yang kemudian diganti Masyumi. Dalam Masyumi, NU adalah bagian yang sangat penting sampai tahun 1952. Dalam muktamarnya yang ke-19 tanggal 1 Mei 1952 menyatakan diri keluar dari Masyumi dan menjadi partai politik tersindiri. Kemudian NU bersama dengan PSII dan Perti membentuk Liga Muslim Indonesia sebagai wadah kerja sama partai politik dan organisasi Islam. Dalam pemilu tahun 1955, NU muncul sebagai partai politik terbesar ketiga. Pada masa orde baru, NU bersama partai politik lainya (PSII, Parmusi, Perti) berfungsi dalam partai persatuan pembangunan (PPP). Kemudian sejak tahun 1984, NU menyatakan diri  kembali ke khittah 1926, artinya melepaskan diri dari kegiatan politik, meskipun secara pribadi-pribadi anggotanya tetap ikut berkiprah dalam berbagai partai politik.
Pada masa Repormasi (1999) para tokoh NU yang dimotori oleh KH. Abdurrahman Wahid (Gusdur) mendirikan partai politik, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang kemudian termasuk 5 besar pemenang pemilu pada tahun tersebut. Melalui poros tengah, Abdurrahman Wahid sebagai pemimpin NU saat itu berhasil menjadi orang nomor satu di RI, meskipun hanya berumur satu tahun.
Peranan NU sebagai organisasi dalam perjuangan mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan tidak diragukan lagi, bahkan para Kyai dan santri memikul senjata (bambu runcing atau golok) untuk berjihad fisabilillah, tercatat dalam sejarah tanggal 30 Oktober 1945, NU mengeluarkan Rosolusi Jihad untuk melawan tentara penjaja.
2.        Telaah materi
  1. Latar belakang berdirinya NU
Nahdlatul Ulama (NU), adalah sebuah organisasi Islam yang terbesar di Indonesia. Organisasi ini berdiri pada 31 Januari 1926 dan bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi.Suatu waktu Raja Ibnu Saud hendak menerapkan asas tunggal yakni mazhab Wahabi di Mekkah, kalangan pesantren yang selama ini membela keberagaman, menolak pembatasan bermazhab dan penghancuran warisan peradaban tersebut. Dengan sikapnya yang berbeda itu kalangan pesantren dikeluarkan dari anggota Kongres Al Islam di Yogyakarta pada tahun 1925. Akibatnya kalangan pesantren juga tidak dilibatkan sebagai delegasi dalam Mu’tamar ‘Alam Islami (Kongres Islam Internasional) di Mekkah yang akan mengesahkan keputusan tersebut. Didorong oleh minatnya yang gigih untuk menciptakan kebebasan bermazhab serta peduli terhadap pelestarian warisan peradaban, maka kalangan pesantren terpaksa membuat delegasi sendiri yang dinamakan Komite Hejaz, yang diketuai oleh K.H. Wahab Hasbullah.
Atas desakan kalangan pesantren yang terhimpun dalam Komite Hejaz, dan tantangan dari segala penjuru umat Islam di dunia, maka Raja Ibnu Saud mengurungkan niatnya. Hasilnya, hingga saat ini di Mekkah bebas dilaksanakan ibadah sesuai dengan mazhab mereka masing-masing. Itulah peran internasional kalangan pesantren pertama, yang berhasil memperjuangkan kebebasan bermazhab dan berhasil menyelamatkan peninggalan sejarah dan peradaban yang sangat berharga.
Berangkan komite dan berbagai organisasi yang bersifat embrional dan ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah berkordinasi dengan berbagai kyai, akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin oleh K.H. Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar.
  1. Sejarah Berdirinya NU
Terbentuknya Nahdatul Ulama tidak bisa dipisahkan dari keberadaan pondok-pondok pesantren yang sudah berumur berabad-abad.  Meskipun masing-masing pesantren bersifat mandiri, tetapi ikatan batin para pemimpin pesantren sangatlah kuat.
Dilandasi pemikiran bahwa persaudaraan antara pesantren-pesantren cukup kuat, tetapi masih berjalan sendiri-sendiri, maka beberapa orang kyai mulai munculkan gagasan untuk mempersatukan tempat-tempat untuk mendidik para santri itu, sekaligus menggerakkanya bersama-sama sehingga menjadi sebuah kekuatan umat yang luar biasa besar. Oleh karena  itu pada tahun 1924 bertempat disebuah rumah di jalan Kebondalem Surabaya, Jawa Timur beberapa orang kyai mempersiapkan kelahiran sebuah organisasi Islam yang rencananya diberi nama Nahdatul Ulama, yang arti Harfiahnya kurang lebih adalah kebangkitan para ulama. Untuk menentukan Anggaran Dasarnya para kiai minta bantuan Mas Sugeng (Sekretaris Mahkamah Tinggi ). Sedangkan K.H. Ridwan dari surabaya yang memiliki darah seniman, kebagian membuat lambang organisasi tersebut.[7]
Ketika H. Wahab Casbullah menyampaikan maksud pendirian Nahdatul Ulama tersebut kepada KH. Hasyim Asy’ari sebagai seorang ulama yang sangat dihormati dan sebagai Gurunya banyak kyai di Jawa, untuk meminta restu dan persetujuanya, beliau tidak langsung setuju. KH. Hasyim Asy’ari sepertinya ragu, apakah pendirian organisasi tersendiri bagi kalangan muslim Tradisional dipandang perlu, karena sudah ada sejumlah organisasi Muslim yang terlebih dahulu lahir, Dengan kata lain keraguan itu sebagai bentuk kekhawatiran beliau kalau pendirian itu disetujui, bisa jadi malah akan merusak persatuan dan kesatuan umat.
Beberapa bulan lamanya, KH. Hasyim Asy’ari masih dalam keraguan apakah menyetujui berdirinya Nahdatul Ulama atau tidak. Beliau khawatir kalau pendirian tersebut akan menyebabkan perpecahan umat Islam di Nusantara. Untuk itu beliau selalau berdoa memohon petunjuk kepada Allah SWT, namun petunjuk itu tidak juga segera kunjung datang. Rupa-rupanya petunjuk Allah SWT terhadap rencana berdirinya Nahdatul Ulama tidak diberikan langsung kepada KH. Hasyim Asy’ari tetapi datang melalui guru beliau yaitu KH. Kholil Bangkalan, Madura.
Ketika petunjuk dari Allah SWT itu datang, KH. Kholil segera memanggil muridnya yang bernama As’ad Syamsul Arifinseorang santri senior berumur 27 tahun untuk mengantarkan tongkat beliau dan membacakan surah Thaahaa ayat 17-23 kepada KH. Hasyim As’ari yang berada di Tebuireng di Jombang. Setelah KH. Asy’ari menerima tongkat dan mendengar surah Thaahaa ayat 17-23 yang dibacakan oleh santri As’ad, hati KH. Hasyim As’ari langsung bergetar pikiranya menerawang jauh keluar pondok pesantren. Dipikiranya terbayang wajah KH. Kholil di Bangkalan, madura. Gurunya yang sudah sangat tua dan bijaksana menaruh harapan yang besar dipundaknya. “berarti ini berkaitan dengan rencana mendirikan Jam’iyah ulam itu...., batin KH. Hasyim Asy’ari menangkap isyarat bahwa gurunya itu tidak keberatan bila dirinya mendirikan sebuah organisasi jam’iyah Islam.
Beberapa hari setelah utusan KH. Kholil kembali pulang kebangkalan, maka berkumpullah beberapa orang kiai di Tebuireng untuk bermusyawarah dan merumuskan segala sesuatu yang berkaitan dengan organisasi itu. Sungguhpun demikian, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, organisasi Jam’iyah yang dicita-citakan belum juga berdiri, sampai kurang lebih satu setengah tahun kemudian, utusan KH. Kholil kembali datang ke Tebuireng, untuk memberikan tasbih disertai pesan dari KH. Kholil yaitu agar KH. Hasyim As’ari agar sering mengucapkan dua buah asmaul husna yaitu ya jabbar dan ya qabbar.
Akhirnya dengan kejernihan hati dan ketenangan berpikir yang beliau lakukan KH. Hasyim As’ari bisa mengambil keputusan yang dianggap paling baik. Pada suatu hari, sejumlah kiai di Jawa dan Madura antara lain: KH. Hasyim As’ari (tebu ireng), KH. Bisri syamsuri (denayar), KH. Ridwan (surabaya), KH. R. Asnawi (kudus), KH. R. Hambali (kudus), KH. Nawawi (pasuruan), KH. Nasrawi surabaya, mereka bermusyawaroh dan sepakat mendirikan organisasi Islam Jam’iyah Nahdatul Ulama di Indonesia pada tanggal 31 Januari 1926 Nahdatul Ulama resmi didirikan.[8]
  1. Ide Dasar Pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari
 K.H. Hasyim Asy’ari menganut paham Ahlussunah waljama’ah, sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrim naqli (skripturalis). Karena itu sumber pemikiran bagi NU tidak hanya al-Qur’an, sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik. Cara berpikir semacam itu dirujuk dari pemikir terdahulu seperti Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi dalam bidang teologi. Kemudian dalam bidang fiqih lebih cenderung mengikuti mazhab: imam Syafi’i dan mengakui tiga madzhab yang lain: imam Hanafi, imam Maliki,dan imam Hanbali sebagaimana yang tergambar dalam lambang NU berbintang 4 di bawah. Sementara dalam bidang tasawuf, mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi, yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat.[9]
Tentang pendidikan
    1. Mendefinisikan pendidikan Islam sebagai upaya untuk mengeluarkan rakyat Indonesia dari cengkraman penjajah.
    2. Mendefinisikan pendidikan Islam sebagai upaya penyadaran bahwa betapa pentingnya pendidikan sebagai sarana untuk memperluas khazanah keilmuan rakyat Indonesia dan umat Islam.
d.      Mendefinisikan pendidikan Islam upaya menyelamatkan umat Islam dari jurang kebodohan, yang mampu berfikir dinamis untuk kemudian mengetahui jatidiri dirinya sebagai makhluk yang diciptakan oleh Tuhan dankemudian tuntutan untuk menghambakan dirinya kepada pencipta-Nya.
  1. Peranan K.H. Hasyim  Asy’ari Dalam Kemerdekaan
Selain mencintai umatnya KH. Hasyim Asy’ari juga mencintai bangsanya. Pada masa penjajahan Jepang, yang berlangsung pada tahun 1942-1945, beliau juga mengadakan perlawanan sebagai mana yang beliau lakukan terhadap penjajah belanda, bentuk perjuangan nasionalisme religius KH. Hasyim Asy’ari antaralain dengan memberikan patwa haram dan penolakan terhadap pemaksaan seikeirei        jepang, yaitu membungkukkan badan keistana kaisar serupa dengan ruku dalam shalat, untuk menghindari kemusyrikan. sikapnya yang keras membuat dirinya ditangkap dan dipenjarakan oleh jepang selama empat bulan.
KH. Hasyim Asy’ari menolak segala bentuk Niponosasi (serba jepang) seperti ber-seikeirei, menyayikan lagu kebangsaan “Kimigayo”, dan mengibarkan bendera Hinomaru. Sebaliknya beliau malah sembunyi-sembunyi menyiapkan kader-kader Islam yang militan dengan cara menganjurkan para santri untuk masuk tentara Pembela Tanah Air (PETA) pada tahun 1943, yang diilhami dari gerakan Pandu Hisbul Wathan milik Muhammadiyah, pembentukan PETA didaerah jombang dan sekitarnya dipelopori oleh putranya yang bernama Abdul Kholiq. Kegiatan ini kemudian diikuti dengan terbentuknya Laskar Hizbullah dan Barisan Sabilillah pada tahun 1944.
Ketika pada tanggal 17 Agustus 1945, Sokarno Hatta, memproklamasikan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, KH. Hasyim Asy’ari adalah salah satu tokoh yang paling awal berani mengatakan bahwa setatus Negara yang baru merdeka ini  sah secara Fiqh islam karena itu umat Islam wajib mempertahankanya.
Begitu mendengar kalau belanda dan sekutunya yang ingin menjajah kembali sudah mendarat di Surabaya, KH. Hasyim Asy’ari segera melakukan reaksi, beliau mengeluarkan sebuah patwa yang kemudian terkenal sebagai Rosulusi Jihad’ yang isisnya antara lain :
1.         Kemerdekaan Indonesia yang telah diploklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 harus dipertahankan.
2.         Pemerintah Republik Indonesia sebagai satu-satunya pemerintahan yang sah harus dipertahankan dengan jiwa maupun harta.
3.         Musuh-musuh Indonesia khususnya orang-orang Belanda yang kembali ke Indonesia dengan menumpang pasukan sekutu (Inggris), sangat mungkin ingin menjajah kembali bangsa Indonesia setelah Jepang ditaklukkan.
4.         Umat Islam Khususnya warga Nahdatul Ulama, harus siap bertempur melawan Belanda dan sekutunya yang berusaha untuk menguasai Indonesia kembali.
5.         Kewajiban jihad merupakan keharusan bagi setiap muslim yang tinggal dalam radius 90 kilometer. Mereka yang berada diluar radius itu, mempunyai tanggung jawab mendukung saudara-sauara muslim mereka yang sedang berjuang dalam radius tersebut.
  1. Menteladani Sikap Intelektual dan Semangat ke Islaman K.H. Hasyim Asy’ari
Beberapa hal yang dapat diteladani dari K.H.Hasyim Asy’ari antara lain :
1.      Semangat menuntut ilmu dan dakwah yang ditekuninya sejak kecil sampai akhir hayatnya
2.      Keuletan dan kegigihan perjuangannya dalam menentang pemerintahan kolonial dengan kecerdasannya mendirikan pesantren dan keuletannya dalam mendakwahkan ajaran Islam
3.      Belajar keberbagai lembaga pendidikan pesantren smpai ke negri Mekkah, menunjukkan semangat yang terus menggelora dalam meningkatkan kecerdasan atau intelektual
4.      Membangun lembaga pendidikan pesantren sebagai basis perjuangan dalam menciptakan intelektual muslim yang berwawasan Islam baik dalam menumbuhkembangakan sikap jihad dan ijtihad yang tidak pernah selesai.[10]
5.      Berdakwah tidak hanya dengan secara lisan diapun semangat berdakwah melalui tulisan-tulisan, banyak buku yang berhasil beliau buat untuk umat islam.
BAB III
PENUTUP
A.      KESIMPULAN
1.    Muhammadiyah
Muhammad darwis atau yang dikenal dengan  sebutan KH. Muhamad dahlan beliau salah satu ulama besar Indonesia yang berperan besar dalam gerakan pembaharuan islam sekaligus pendiri muhammadiyah yang mana ajaran beliau terpengaruh oleh ajaran muhammad Abduh dan jamaluddin al-af-Agani di Mesir.
Pada masa itu beliu melihat di indonesia terutama di desa kauman kota yokyakarta yang mana ajaran-ajaran agamanya masih terpengaruh oleh ajaran syeh siti jenar yang mencampurkan agama dengan taradisi maka dari itu beliau mengren konsepkan pemikiran untuk pemurniran ajaran agama agar tidak tercampur dengan ajaran syariat islam yakni rasionalitas harus dibangkitkan dan tradisional harus ditinggalkan untuk membangun kesejahteraan umat islam terutama dalam agama serta memodernisasikan sebuah gerakan untuk meninggalkan hal-hal yang lama menuju ke hal-hal yang baru.
2.    Nahdatul Ulama (NU)
Konsep pemikiran yang dapat diambil dari pemikiran dan sejarah KH. Hasym Asy’ari yaitu:
1.      Tradisional yaitu ajaran yang disampaikan oleh KH. Hasyim Asy’ari masih melanjutkan cara-cara mengajar seperti orang-orang yang mendahuluinya dengan menggunakan pesantren tetapi dia pertama kali yang menggunakan pesantren modern yaitu dalam sistim mengajarnya dia tidak seluruhnya agama tetapi ada juga mengajar ilmu umum.
2.      Akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli. contohnya KH. Hasyim Asy’ari mendakwahkan ajaran islam dengan cara tidak dengan kekerasan  dia memasukkan ajaran-ajaran agama islam di dalam tradisi atau budaya masyarakat pada saat itu dengan sedikit-sedikit memasukkan unsur islam dalam kebiasaan masyarakat setempat, dan diterima oleh masyarakat setempat jadilah perpaduan antara kebudayaan menjadikan kebudayaan yang bernapaskan islam.
3.      Penetrasi dalam bahasa indonesia penetrasi berarti penekanan terhadap suatu unsur (bisa benda atau apa saja) yg dilakukan secara bertahap & berkesinambungan demi suatu tujuan tertentu. Yaitu dilakukan oleh KH. Hasyim Asy’ari dengan cara mendidik umat islam agar uamat islam terbebas dari pembodohan oleh penjajah dan mau bahu membahu melepaskan diri dari penjajah.
4.      Nasionalis yaitu KH. Hasym Asy’ari cinta tanah air terbukti dia sangat berperan dalam kemerdekaan Indonesia dan mempertahankan kemerdekaan, dengan cara membakar semangat pejuang-pejuang indonesia untuk melawan penjajah dan menurunkan langsung murid-muridnya untuk melawan penjajah.
Adapun grand konsep dari “Muhammadiyah” yang dapat editor simpulkan dari hasil telaah diatas adalah “Amar Ma’ruf Nahi Munkar” sebagaimana dalam surat Ali Imran :104
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُوْنَ إِلَى الخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالمعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ المُنْكَرِج وَأُوْلَئِكَ هُمُ المُفْلِحُوْنَ
Artinya: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar[11] merekalah orang-orang yang beruntung.
Sedangkan dari NU (Nahdatul Ulama) yakni dari hasil seminar NU tahun 1989 di Malang yakni ada dua konsep yakni Konservasi yaitu المحافظة بالقادم الصالح (Menjaga nilai-nilai lama yang baik/ positif), dan Dinamisasi الأخذ بالجديد الأصلاح (Mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik).
DAFTAR PUSTAKA
Heyrr, Muhammad dkk. 2006 Tokoh-Tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20.  Jakarta, Gema Insani Press.

          Ishaq, Rusli. 2007. Sejarah Kebudayaan Islam. Sukamaju Depok., Arya Duta.

Munir, Abdul. 1990. Pemikiran Kyai Ahmad Dahlan dan Muhamadiyah dalam Perspektif Perubahan Sosial. Jakarta, Bumi Aksara.
Nashir, Haedar. 2000. Dinamika Politik Muhammadiyah. Yogyakarta,CV Adipura
Wibowo, satyo budi. 2011. Dahlan Asy’ari. Yogyakarta : Diva press

Zahro, Ahmad. 2004. Tradisi Intelektual. Yogyakarta, PT LkiS Pelangi Aksara, Mulkhan

http://www.muhammadiyah.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=22&Itemid=35
http//id.wikipedia.org/wiki/nahdatul ulama dan muhammdiyah


[1] Mujib. A, dkk. Intelektualisme Pesantren. ( Jakarta, Diva Pustaka, 2003). 24-25
[2] Muhammad Heyrr.dkk. Tokoh-Tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20. ( Jakarta, Gema Insani Press, Cet.1, 2006), 11.
                                                                             
[3] Haedar Nashir. Dinamika Politik Muhammadiyah. (Yogyakarta,CV Adipura,2000),70-71
[4] Rusli Ishaq. Sejarah Kebudayaan Islam. (Sukamaju Depok., Arya Duta, 2007),86
[5]http://www.muhammadiyah.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=22&Itemid=35
[6] Rusli Ishaq. Sejarah Kebudayaan Islam. (Sukamaju Depok., Arya Duta, 2007), 88
[7] Susatya budi wibowo.Dahlan, Asy’ari kisah perjalanan wisata hati.yokyakarta. hal. 210
[8] Ibid. 214
[9] Ahmad Zahro. Tradisi Intelektual. (Yogyakarta, PT LkiS Pelangi Aksara, 2004 ).hal. 15




[10] Rusli Ishaq. Sejarah Kebudayaan Islam. (Sukamaju Depok., Arya Duta, 2007),hal. 94
[11] Ma'ruf: segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan Munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.

Reaksi:
Emoticon Ini Tidak Untuk Komentar Lewat Facebook.Copas Kode Pada Komentar Mu....
:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i:
:j: :k: :l: :m: :n: :o: :p: :q: :r:
:s: :t: :u: :v: :w: :x: :y: :z: :ab:
Previous Post Next Post Home
Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Mohon maaf apabila terdapat komentar yang sesuai kriteria di bawah ini akan dihapus, demi kenyamanan bersama

1. Komentar berbau pornografi, sara, dan menyinggung.
2. Mencantumkan link hidup.
3. Mengandung SPAM.
4. Mempromosikan Iklan.

Terima kasih atas perhatiannya.